ZMedia Purwodadi

Gemetar Pegangnya: Unboxing Laptop Gaming ROG Zephyrus Duo GX651A Seharga Mobil!

Table of Contents

Halo semuanya! Selamat datang lagi di blog PlayGames-id. Kalau biasanya aku ngajak kalian rakit PC berjam-jam sampai tangan belepotan thermal paste, hari ini ceritanya agak beda. Di depanku sekarang ada sebuah kotak raksasa yang bobotnya bikin encok, isinya adalah sebuah laptop dari ASUS yang aku pinjam dari toko teman. Tapi ini bukan sembarang laptop, guys. Ini adalah Laptop Gaming ROG Zephyrus Duo GX651A yang harganya menyentuh Rp129.799.000, alias nyaris Rp130 juta!

Laptop gaming layar ganda super mewah di atas meja kayu dengan aksesoris lengkap.
Menguji laptop "Sultan" seharga Rp130 juta yang punya dua layar OLED 16 inci.

Jujur aja, pas naruh kotak seberat dan segede ini di atas meja, tanganku agak gemetar. Kalau dihitung-hitung, harga laptop ini udah setara sama 50 gram emas atau bahkan harga satu mobil bekas. Buat di kondisi ekonomi sekarang, siapa yang mau beli laptop semahal ini? Mungkin cuma para "Sultan" di luar sana yang butuh prestise dan teknologi paling mutakhir. Tapi karena kebetulan aku dapat pinjaman, mari kita puaskan rasa penasaran kita bareng-bareng. Apa sih yang bikin ASUS pede banget jual laptop dengan harga 9 digit? Mari kita bedah tuntas!

Daftar Spesifikasi "Dewa" ROG Zephyrus Duo GX651A

Sebelum kita buka kotaknya yang misterius, nih aku rangkum dulu spesifikasi kunci yang tertulis di bagian luar dusnya. Pas aku baca list ini, rasanya kayak lagi ngelihat spek PC desktop idaman yang dipaksa masuk ke bodi portabel.

Komponen
Spesifikasi Monster
Prosesor (CPU)
Intel Core Ultra 9 386H (Paling kencang & efisien saat ini)
Kartu Grafis (GPU)
NVIDIA GeForce RTX 5090 (TGP 150 Watt) dengan VRAM raksasa 24GB
RAM
64GB LPDDR5X (Onboard/tersolder, tidak bisa di-upgrade)
Storage (SSD)
2TB PCIe Gen 5 (Kecepatan hingga 13.000 MB/s!)
Layar Utama & Kedua
Dua layar 16 Inci OLED, Resolusi 3K (WQXGA+), Touchscreen, 120Hz
Baterai
Kapasitas 90Wh

Pengalaman Unboxing: Banjir Harta Karun di Dalam Kotak

Langkah 1: Tas, Headset, dan "Batu Bata" Charger

Pertama kali aku buka kotaknya yang luar biasa bongsor ini, aku langsung disambut dengan berbagai "sesajen" bonus. Wajar sih, harga 130 juta masa cuma dapat laptop doang? Barang pertama yang kutarik keluar adalah headset gaming ROG Fusion 232.

headset gaming ROG Fusion 232
tangan gemetar memegang headset gaming ROG Fusion 232

Lanjut di bawahnya, ada sebuah tas ransel roll-top besar yang bahannya kerasa premium banget, lengkap dengan tulisan-tulisan khas gamers. Kalau iseng dicek di e-commerce, tas sejenis ini aja dijual terpisah seharga Rp2,5 jutaan!

Pas bongkar kompartemen lainnya, aku nemuin kotak charger. Begitu diangkat, astaga, berat banget kayak batu bata! Ternyata ini adalah charger utama dengan output maksimal sampai 300 Watt. Kabelnya tebal banget buat menahan daya sebesar itu.

Charger Utama 300 watt

Menariknya, ASUS juga nyertain adapter kecil ukuran 100 Watt tipe Type-C. Jadi kalau aku cuma mau bawa laptop ini ke kafe buat ngetik atau edit ringan tanpa main game berat, aku nggak perlu bawa si "batu bata" itu. Oh ya, di kotak ini juga terselip mouse ROG Gladius 3. Paket komplet abis!

Carger Tipe C 100 Watt

Langkah 2: Mengangkat Sang Monster Hitam

Sekarang waktunya ngeluarin hidangan utamanya. Laptop ini dibungkus dengan kain hitam halus bak barang mewah. Pas aku angkat, wuih, padat banget! Di web resminya tercatat bobotnya sekitar 2,8 sampai 2,9 kilogram. 

Mengingat bodi laptop ini kelihatan cukup ramping dan compact, bobot 3 kilogram ini bener-bener butuh pembiasaan. Di bagian penutup layarnya (cover), ada motif sayatan melintang yang disebut Slashlighting—lampu garis ini bisa menyala dan di-custom sesuka hati lewat software Armory Crate.

Di sekeliling bodinya, port yang disediakan sangat dermawan buat content creator. Ada Thunderbolt 4 berkecepatan 40Gbps, USB Type-A 3.2, port HDMI 2.1, hingga SD Card reader yang pastinya sangat didambakan oleh para videografer. 

Di bagian bawahnya, ada stand lipat berbentuk trapesium. Begitu kakinya aku tarik... tek! Bunyi putarannya terasa mantap dan langsung mengunci kokoh. Fungsi stand ini krusial banget buat ngasih ruang lega supaya udara panas dari ventilasi ekstra besarnya bisa terbuang dengan lancar.

Langkah 3: Momen "Aha!" yang Pertama - Magnet Tersembunyi

Saat lagi asik mengagumi bodi bawahnya, aku ngalamin satu momen kecil yang bikin nyeletuk, "Aha! Pantes harganya mahal!". Jadi ceritanya, aku lagi mencari di mana kira-kira posisi memori penyimpanannya. Tiba-tiba, aku ngerasa ada satu bagian penutup kecil di area stand bawah yang bisa dilepas. 

Ternyata, itu adalah pintu akses cepat buat nambah kapasitas SSD! Yang bikin melongo, penutup ini nggak pakai baut murahan, melainkan menggunakan sistem magnet premium. Ekstra detail receh tapi dipikirkan sedemikian rupa inilah yang bikin status laptop ini melambung jadi perangkat prestige. Sebagai info, SSD bawaannya aja udah berkapasitas 2TB pakai jalur PCIe Gen 5 dengan kecepatan gila 13.000 MB/s.

Langkah 4: Menyalakan Layar Ganda dan Kendala Orientasi

Tibalah momen magisnya. Aku tekan tombol power, dan dua layar OLED 16 inci langsung menyala terang benderang. Spesifikasi kedua layar atas dan bawah ini sama persis; sama-sama resolusi 3K, layar sentuh (touchscreen), dengan refresh rate 120Hz. 

Lapisan kacanya juga pakai Gorilla Glass DXC yang anti-glare, jadi pantulan cahayanya sangat minim meski kena sorot lampu studio. Karena bodinya dipenuhi layar bawah, ASUS menyertakan keyboard fisik lepasan yang punya trackpad sangat besar dan lampu RGB lengkap.

Layar Ganda Laptop Gaming ROG Zephyrus Duo GX651A
Mengagumi Tampilan Dual Screen Laptop Gaming ROG Zephyrus Duo GX651A

Nah, di sini aku ketemu satu kendala konyol. Karena layar bawahnya bisa diangkat ke belakang pakai engsel fleksibel sampai 320 derajat (mode tenda/segitiga), pas aku nyalain dengan posisi layar saling membelakangi, gambar di layar bawahnya malah terbalik!. Aku sempat garuk-garuk kepala, "Ini masa laptop Rp130 juta layarnya kebalik?". 

Untungnya, solusinya gampang banget. Aku cuma perlu buka Display Setting Windows dan mengubah orientasinya ke Landscape Flipped. Atau cara yang lebih canggih, aku pakai software bawaan bernama Screen Expert buat ngatur mode "Sharing"—jadi gambar yang aku coret-coret di layar utamaku akan langsung terduplikasi dan menghadap lurus ke arah orang yang duduk di seberangku. Fitur ini bakal keren banget kalau dipakai presentasi meeting!

Langkah 5: Menyiksa Prosesor dan GPU Monster

Punya prosesor Intel Core Ultra 9 386H dan NVIDIA RTX 5090 tentu rasanya gatal kalau nggak langsung disiksa. Pertama, aku coba render video editing 4K berdurasi 5,5 menit di Adobe Premiere. Waktu tombol export ditekan, kipasnya emang agak teriak, tapi prosesnya selesai cuma dalam waktu 1 menit 5 detik saja! Fakta mindblowing-nya: kecepatan render laptop setipis ini ternyata bisa mengalahkan PC desktop rakitan kantorku yang segede gaban. Kemungkinan besar ini berkat arsitektur mesin baru di dalam prosesor Intel yang bikin sistem rendering makin spesialis.

Buat urusan suhu, sistem pendinginnya bener-bener kerja keras. ASUS membenamkan cairan liquid metal, vapor chamber, dan lembaran grafit sekaligus di dalam bodi ini. Hasilnya sangat impresif! Saat diuji beban penuh (stress test), suhu maksimal GPU hanya mencapai 72 derajat Celcius, dan CPU di 70 derajat. Ini pencapaian luar biasa yang sangat krusial, karena hawa panas yang berlebihan bisa mempercepat risiko kerusakan layar OLED (burn-in).

Gimana dengan performa main game? Aku buka Forza Horizon (yang kualitas grafisnya fantastis) dan langsung rata kanan; resolusi maksimal, Ray Tracing Extreme aktif. Hasilnya, laptop ini nyantai aja jalan di 88 hingga 118 FPS. Menariknya, pas dicek, pemakaian memori VRAM GPU-nya baru terpakai setengahnya, karena RTX 5090 ini dibekali VRAM gila sebesar 24GB.

Kesan Akhir: Ada Harga, Ada Rupa (dan Gengsi)

Meski begitu powerful, laptop ini bukannya tanpa cacat. Menurutku, kualitas kameranya (webcam) masih standar laptop Windows pada umumnya, nggak ada yang bikin takjub buat ukuran Rp130 juta. Selain itu, kualitas speaker-nya memang punya bass dan detail yang bagus, tapi terasa sedikit tertahan alias "mendem" kalau dibandingkan dengan audio jernih milik seri Zenbook. Tapi, kelemahan minor itu rasanya langsung tenggelam oleh segala kemewahan spesifikasi dan sistem dua layarnya yang nggak ada saingannya di dunia.

Urusan baterai? Cukup mengagetkan. Meski narik dua layar 16 inci yang terang benderang, kapasitas baterai 90Wh-nya terbukti awet karena prosesor generasi terbarunya punya E-Core dan Low Power Core yang sangat efisien saat sistem sedang idle. Dites nyala satu jam, sisa baterainya masih 81%.

Kesimpulannya, Laptop Gaming ROG Zephyrus Duo GX651A ini bukan cuma jualan komponen mahal, tapi juga jualan hasil riset, desain eksklusif, dan pastinya prestige. Buat kalian yang mungkin berniat meminangnya di masa launching, ASUS ternyata ngasih bonus spesial berupa koper ROG Hard Case Luggage 20th Anniversary Edition yang eksklusif cuma buat pembeli laptop ini. Gimana, tertarik jual mobil buat ganti laptop? Hehe.


FAQ: Seputar Laptop Sultan ROG Zephyrus Duo GX651A

Punya rasa penasaran yang sama dengan aku waktu awal buka laptop ini? Yuk, cek jawaban singkatnya di bawah ini:

Kenapa harganya bisa sampai nyaris 130 Juta?
Harga tersebut adalah kompensasi dari inovasi ekstrem. Laptop ini dibekali dua layar 16 inci berpanel OLED 3K, GPU RTX 5090 kelas atas, material premium, SSD Gen 5 yang sangat kencang, serta biaya R&D (riset) ASUS yang sangat tinggi karena belum ada laptop gaming lain yang menawarkan sistem ganda seperti ini di dunia.
Apakah RAM di laptop ini bisa ditambah (di-upgrade) sendiri?
Sayangnya tidak bisa. Laptop ini sudah menanamkan memori RAM sebesar 64GB bertipe LPDDR5X yang bersifat onboard (disolder langsung ke motherboard), sehingga tidak bisa dilepas atau ditambah.
Punya spesifikasi gahar dan dua layar, apa nggak gampang panas?
Ternyata sangat aman. Sistem pendinginnya dibuat super maksimal dengan menggabungkan liquid metal, vapor chamber, dan lembaran grafit. Terbukti saat tes beban ekstrem, suhu GPU terjaga di 72 derajat Celcius dan CPU di 70 derajat Celcius.
Gimana dengan daya tahan baterainya?
Sangat lumayan berkat kapasitas baterai 90Wh dan prosesor Intel Core Ultra 9 yang memiliki arsitektur efisien (Low Power Core). Dalam pengujian awal dengan dua layar aktif, baterai hanya berkurang sekitar 19% setelah pemakaian santai selama satu jam.
Apakah harus selalu bawa charger yang segede batu bata itu?
Tidak perlu. Kalau kamu tidak berencana main game atau merender video berat, kamu bisa menggunakan kepala charger adapter Type-C berukuran kecil (berdaya 100 Watt) yang juga sudah disertakan gratis di dalam kotak penjualannya.

Itu dia pengalamanku nyobain "mesin pencetak gengsi" dari ASUS ROG hari ini. Punya pertanyaan lain? Jangan ragu buat komentar ya! Jangan lupa share artikel ini supaya teman-teman kalian bisa ikut melongo bareng. Sampai jumpa di ulasan meja kerjaku yang selanjutnya!

Posting Komentar